Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan

Cermin Kehidupan Sang Petani. Oleh : Bung Youngki


Banyak sekali tafsiran mengenai indikator petani, namun bagi ku petani adalah penderita tahunan. Tak dapat di pungkiri bahwa nasib mereka setiap saman hanya begitu-begitu saja, dan bahkan demi mencari sekepeng rupiah demi menghidupkan keluarga harus dengan keringat darah dan air mata. penghasilan yang mereka harapkan sampai sekarang tak kunjung berubah. apa yang salah dengan negri ini ?, sang ploklamator bung Karno dalam teorinya Marhaenisme beliau mengatakan bahwa ada sebuah sistem yang menindas yakni sistem Kolonialisme. 

Berkaca pada konteks kehidupan petani memang demikian, hari ini, sangat ekstrim ketika kita melihat fakta dalam kehidupan sang petani, hironisnya seakan-akan mereka belum merasakan kemerdekaan. kehidupan yang mereka jalani tak kalah beda dengan kehidupan pada zaman penjajahan (KOLONIALISME). Penindasan yang mereka rasakan selama bertahun-tahun, tak satupun yang mampu untuk melepaskan mereka. lantas ketika bercermin pada undang-undang dasar negara republik indonesia 1945 alinea pertama berbunyi "bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan. 

Bagiku itu cukup jelas, namun mengapa penjajahan masih dirasakan oleh kaum Marhaen ?, apakah nasib mereka telah di takdirkan oleh yang Maha Kuasa ?, ataukah bagi negara mereka itu budak yang tidak boleh mersakan kemegahan seperti kaum yang lainnya?, tidak kawan, mereka seharusnya sama dimata kita semua. bukalah mata dan hati anda dan rasakanlah penderitaan mereka, jangan biarkan merka terlarut dalam omong kosong para penguasa. 

Sadarkah kita bahwa emas, kekayaan, dan harta yang kita miliki semua berasal dari merka ?, anda memeras habis-habisan semua yang mereka miliki hanya semata-mata demi kesenangan mu. Lantas diluar sana mereka terbuang dalam lembah penderitaan yang begitu dalam. mereka hanya mampu berpasrah diri atas kekejian yang kita lakukan, sekarang, mereka bahkan hanya mampu mengais sisah-siash puing kehancuran dinegeri mereka sendiri.

Negeri yang mereka harapkan mampu menghasilkan banyak uang, negeri yang mereka bela dengan darah untuk mengusir penjajah, karena mereka percaya negeri ini adalah surga kecil yang seharusnya dijaga demi anak cucu mereka. lantas mereka dihianati oleh anak cucu mereka sendiri, mereka dijajah dan jadikan budak oleh anak cucu mereka sendiri, mereka dijadikan bahan cacian, hinaan oleh anak cucu mereka sendiri. 


Cerita tentang mereka tidak akan pernah habis, jikalau jasa-jasa mereka tidak dihargai sama sekali, benarkah mereka telah sejahtera atas harapan yang mereka ukir di atas cita-cita luhur bangsa kita ?, kawan bukalah jendela mu dan lihatlah di bawa sana masih terlentang seorang ibu yang tua dan kering, sedang mengais sehelai sampah untuk di jual agar mereka bisa makan. dimana nurani kita untuk membatu mereka ?, mereka terpaksa tersenyum didepan kita, tetapi dibelakang kita, mereka menangis mengharapkan sedeka dari kita.

Banyak harapan yang mereka punya, namun terlilit atas penindasan, inikah yang dinamakan kesejahtraan ?, mereka banyak ditipu daya oleh para politisi yang katanya memberikan bukti bukan janji. lantas bukti yang diberikan hanyalah penderitaan yang mereka rasakan sampai pada hari ini. Diluar sana mereka hanya tidur beratapkan alang, dan beralaskan daun pisang, seperti binatang yang dipelihara dalam kandang. 

Sendi-sendi penindasan membuat mereka semakin tak berdaya, mereka pasrah sambil tersenyum diatas derita yang mereka rasakan. sungguh sangat sadis dan keji, namun tak kunjung berubah, negeriku masih memupuk keserakaan. menjadikan perbedaan sebagai tombak untuk menguasa. syair-syair kemerdekaan dikumandangkan atas penderitaan yang keji ini, lantas itu hanya sebatas obyek penghafalan. kata merdeka tak lagi dimaknai secara mendalam, para penguasa masih bergaya diatas harta yang mereka punya. tetapi nasib para petani belum juga berubah. 


Kutuliskan sebuah catatan untuk perlu direfleksikan demi membawa indonesia yang lebih sejahtera, bangkitlah wahai kaum pejuang pemikir pemikir pejuang, bahktikanlah dirimu seutuhnya demi mereka, bukan mencari panggung atas agar namamu terkenal, ingatlah perjuangan kita belum selesai. satukanlah barisanmu, bersama buruh tani, bersama GmnI abdi rakyat yang sejati. Berjuanglah secara dinamis Marhaen pasti menang !!!!.

Bangkitkan Semangat Juangmu

Bangkitkan Semangat Juangmu

oleh bung Youngki.


Bersatulah wahai pejuang pemikir pemikir pejuang, saatnya ibu pertiwi memanggilmu untuk berjuang, hilangkan rasa takut dan ego karena itu akan menyerang kembali sesama saudaramu. lihatlah di depan mata banyak tangisan darah dan aiar mata. marhaen yang selama ini enkau bicarakan nyatanya mereka diperlakukan secara tidak kemanusiaan, masih banyak yang terlentang dibawah gedung-gedung yang berhiaskan kemegahan, masih banyak yang kadang tidak makan dalam seharian, dan masih banyak yang menderita karena penindasan.

lantas apa yang engkau teriakan kata marhaen menang....? apa itu hanya sebatas buah bibir yang enak didengar, ataukah itu hanya sebatas sindiran bagi para golongan yang berkepintangan, jangan, salah ketika kaum yang engkau perjuangkan di perlakukakan terus menerus secara tidak berkeadilan. Bertanyalah mengapa demikian,,?. carilah jawaban atas penderitaan kaum marhaen, jangan membuat dinamika yang berkempanjanagn, karena urusan mu bukan untuk mengurus rumahmu saja, tetapi masih banyak tugas mulia yang seharusnya engkau perjuangkan. mengapa engkau masih diam dan hanya mampu bersandar dengan orang lain. itukah yang dinamakan berjuang ? Berjuang bukan hanya sebatas perkataan yang engkau teriakan marhaen menang, berjuang juga bukan hanya sebatas kajian yang dibicarakn dalam forum-forum kecilmu. setelah itu semuanya hilang bagaikan debu.

Sadarilah wahai kaum pejuang pemikir, pemikir pejuang, engkau sekarang masih tidur-tiduran. tidakkah engkau tahu bahwa perbuatan mu itu sungguh berdosa bagi para leluhurmu yang telah dengan susah paya berjuang untuk menghantarkankanmu kedepan pintu kemerdekaan, ingatlah kata sang ploklamatormu bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. namun apa yang engkau lakukan saat ini untuk membalas jasa-sasa mereka. engkau bahkan tak mengetahui nama-nama mereka. karena engkau hanya mengedempankan keegoisan yang engkau gunakan untuk mencari tahta demi kenyamanan mu sendiri.

kini saatnya kesempatanmu, wahai kaum pejuang pemikir pemikir pejuang. bakarlah api revolusimu dengang semangat cinta akan tanah air mu. buatlah satu tindakan nyata demi melindungi ibu pertiwi. bangkitalah dari dinamika yang berkempanjangan. bukalah mata batinmu untuk melihat kaum yang membutuhkanmu. kuburkan dalam-dalam sifat egomu demi menjaga kekayaanmu. agar kekayaanmu jangan sampai dicuri oleh orang asing. jangan biarkan kita hancur karena keserakaan. kenalilah kawanmu dan kenalihlah lawanmu. Ingat GmnI adalah abdi rakyat yang sejati. oleh sebab itu bersama buruh tani kita rapatkan barisan dan berjuang secara dinamis niscaya marhaen pasti menang.


merdeka !!!

GmnI !!! Jaya !!!

Marhaen !!! Menang !!

Catatan Untuk Aktivis Gmni



Catatan Untuk Aktivis Gmni
Merdeka...!

Gmni Jaya 

Marhen Menang

Salam sejahtera untuk mu hai para akivis Gmni dimanapun berada, semoga rahmat Tuhan Kita Yang Maha Esa senntiasa menyertaimu disetiap perjuangan.

Melihat kebebasan berekspresi yang perlu untuk di hormati dan dihargai maka saya ingin sedikit mengkritisi Kader Gmni bahwa, jangan berteriak Merdeka, Gmni Jaya dan Marhaen Menang tanpa ada sebuah pemaknaan atas perengunan yang mendalam tentang arti kata merdeka, Gmni Jaya, dan Marhaen Menang.

Untuk mu yang sering berteriak Merdeka, kamu adalah orang pertama yang harus merdeka terlebih dahulu, “Merdeka dalam berpikir, Merdeka dalam Bertindak” sehingga Gmni mu bisa Jaya dan Marhaen menang, namun musatahil untuk mencapai jaya dan menang, jika dalam hal berpikir dan bertindak saja kamu tidak bisa merdeka, maka jangan berharap apa yang dicita-citakan akan tercapai.

Saya melihat di berbagai forum diskusi , selalu ada teriakan merdeka, merdeka, merdeka, Gmni Jaya, Marhaen Menang, kemudian dilanjutkan dengan berbagai kajian terkait isu kebangsaan, dengan wacana dan pertarungan argumen yang sangat luar bisa, ternyata semua itu hanya untuk mecari popularitas dan eksistensi diri.

Hai !!! aktivis berhentilah berterik merdeka jika pemikiran mu masih di racuni oleh doktrinasi kepentingan politik praktis orang lain. Berhentilah memperjuangkan keadilan bagi kaum tertindas, jika itu hanya omong kosong mu saja. Apakah ini yang kamu sebut dengan suara lantang seakan meruntuhkan langit dan mencabut bumi dari porosnya, Merrrrrrrdekaaaaaaaaa !!! Gmni Jaya, dan Marhaen Menang ?

Jika Ia, maka kamu tidak punya rasa malu atas mereka yang tertindas hari ini, karena kamu telah mangatasnamakan penderitaan mereka untuk memperjuangkan kepentingan mu, dan kepentingan golongan mu. 

Kamu mengkalaim diri sebagai seorang nasionalis namun kamu memeta-metak antar kubu yang satu dengan kubu yang lain, golongan yang satu dengan golongan yang lain, Heiiii...!!! aktivis, ingatlh bahwa Bung Karno mengkonsepkan nasionalis Indonesia yaitu nasinalis yang Humanis, bukan nasionalis yang membeda-bedakan.

Semoga melalui catatan singkat ini kita bisa merefleksi dinamika yang terjadi disekitar kita dengan lebih bijak lagi, sehingga perjuangan kita tidak menjadi sia-sia namun membawa dampak yang positif bagi Bangsa dan Negara.




IDEALIS ATAU EGOIS

Kategori

Kategori